WARTASIBER.ID Jakarta – Suasana penuh kehangatan dan kekeluargaan mewarnai terpilihnya Laksamana Pertama TNI (Laksma) Dr. Steven Toar Sambouw sebagai Ketua Kerukunan Kawanua Tombulu untuk periode 2026–2031. Kepercayaan ini lahir dari musyawarah yang sarat nilai persatuan, mencerminkan eratnya ikatan warga Tombulu di perantauan.
Penunjukan Sambouw bukan sekadar hasil forum, tetapi juga wujud harapan besar masyarakat terhadap sosok pemimpin yang dinilai matang secara pengalaman, bijak dalam bersikap, serta memiliki komitmen kuat menjaga kebersamaan. Ia diharapkan mampu merawat semangat kekeluargaan sekaligus membawa organisasi menjadi lebih hidup dan bermanfaat bagi anggotanya.
Di tengah kesibukannya sebagai Direktur Strategi Keamanan Laut (Kamla) pada Deputi Bidang Kebijakan dan Strategi di Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI,Sambouw tetap dikenal sebagai figur yang dekat dengan akar budaya dan nilai-nilai kearifan lokal. Perjalanan kariernya yang gemilang di TNI Angkatan Laut menjadi cerminan dedikasi seorang putra daerah yang terus berkarya untuk bangsa.

Bagi masyarakat Sulawesi Utara, khususnya Minahasa, pencapaian Sambouw sebagai perwira tinggi berbintang satu menjadi kebanggaan tersendiri. Lebih dari itu, kisahnya menjadi inspirasi bagi generasi muda bahwa kerja keras dan integritas mampu membuka jalan menuju pengabdian yang lebih luas.
Ke depan, di bawah kepemimpinannya, Kerukunan Kawanua Tombulu diharapkan semakin kokoh sebagai rumah bersama bagi warga Tombulu di perantauan. Tak hanya sebagai wadah silaturahmi, organisasi ini juga diharapkan menjadi penjaga nilai budaya, adat istiadat, dan identitas Minahasa di tengah derasnya arus modernisasi.
Semangat kolaborasi juga menjadi harapan besar. Dengan jaringan yang semakin luas dan partisipasi aktif para anggota, Kerukunan Kawanua Tombulu diyakini mampu memberi kontribusi nyata, baik dalam bidang sosial, budaya, maupun pembangunan bangsa.
Terpilihnya Sambouw pun disambut positif oleh berbagai kalangan. Ia dinilai sebagai sosok yang tidak hanya berhasil dalam karier, tetapi juga tetap membumi dan setia pada nilai-nilai luhur budaya.
Mengusung filosofi “Sitou Timou Tumou Tou” — manusia hidup untuk memanusiakan sesama — kepemimpinan Sambouw diharapkan mampu mempererat tali persaudaraan, menumbuhkan kepedulian, dan memperkuat persatuan, tidak hanya di antara warga Tombulu, tetapi juga dalam bingkai kebangsaan Indonesia.
(Winda)












