Manado WARTASIBER.ID — Tokoh adat Minahasa/Tou Minahasa, Benny Kawu bersama perwakilan masyarakat adat mendatangi Polda Sulawesi Utara untuk menyerahkan surat pernyataan sikap terkait penolakan terhadap rencana kedatangan Abdul Somad di wilayah tanah adat Minahasa dan Sulawesi Utara.
Dalam keterangannya kepada wartawan, Benny mengatakan kedatangan mereka ke Mapolda Sulut bertujuan menyampaikan surat resmi sekaligus permohonan audiensi dengan Kapolda Sulut. Surat tersebut telah dimasukkan melalui Sekretariat Umum (Setum) Polda Sulut dan pihaknya kini menunggu arahan lebih lanjut dari pimpinan kepolisian.
Benny menegaskan, sikap penolakan itu dipicu oleh sejumlah ceramah Abdul Somad yang dinilai menyinggung umat Kristiani. Salah satu pernyataan yang disoroti yakni ceramah terkait simbol salib yang dianggap melukai perasaan umat Kristen.

“Kami sebagai umat Kristiani merasa tersakiti. Ucapan seperti itu tidak pantas disampaikan ke publik karena dapat memicu reaksi di masyarakat,” ujar Benny.
Menurutnya, masyarakat adat Minahasa selama ini hidup dalam hubungan toleransi yang kuat dengan umat Muslim di Sulawesi Utara. Ia mencontohkan hubungan kekeluargaan antara masyarakat Minahasa dan Bolaang Mongondow yang telah terjalin lama melalui hubungan sosial maupun perkawinan antarkomunitas.
Karena itu, pihaknya mengaku khawatir ceramah yang dianggap provokatif dan intoleran dapat mengganggu kerukunan antarumat beragama yang selama ini terjaga di Sulawesi Utara.
“Kami tidak ingin persaudaraan antara umat Kristen dan Muslim di Sulawesi Utara terganggu.
Kalau membuat kegiatan keagamaan silakan saja, tetapi jangan sampai ada ceramah yang memicu perpecahan,” katanya.
Meski menyatakan penolakan terhadap kehadiran Abdul Somad, Benny menegaskan masyarakat adat Minahasa tetap menghormati kehidupan beragama dan mendukung ceramah-ceramah yang menyejukkan serta memperkuat persatuan bangsa. (Winda)












