MINAHASATENGGARA, WARTASIBER.ID — Di balik hiruk pikuk perdebatan soal tambang di media sosial, ada suara pelan dari warga Kecamatan Belang. Suara itu soal dapur yang mengepul, soal anak sekolah, soal nafkah harian.
Bagi mereka, pertambangan bukan sekadar soal izin dan regulasi. *Ini soal hidup.*
*”Banyak Keluarga Kami Bertahan Karena Ini”*
Sejumlah warga Belang menyampaikan, aktivitas pertambangan selama ini sudah jadi denyut ekonomi kampung mereka. Bukan karena ingin menutup mata, tapi karena memang dirasakan manfaatnya langsung.

“Jujur Pak, banyak keluarga di sini menggantungkan hidup dari tambang. Ada yang jadi pekerja, ada yang buka warung, ada sopir, ada tukang. Dari situ anak-anak bisa sekolah, bayar listrik, beli beras,” ujar salah satu warga Belang.
Menurut warga, ketika ada yang mengkritik, mereka paham. Itu hak demokrasi. Tapi yang mereka minta sederhana: *kritik persoalannya, jangan seret nama orang dan keluarganya.*
“Kami sedih kalau di medsos tiba-tiba nama pribadi, nama keluarga disebut-sebut. Padahal belum tentu ada kaitannya. Kalau ada bukti salah, ya bawa ke hukum. Buktikan. Jangan menghakimi di kolom komentar,” katanya.
*Tambang: Bukan Sekadar Batu, Tapi Penghidupan*
Warga bercerita, dampak ekonomi tambang terasa sampai ke pelosok desa. Lapangan kerja terbuka, usaha kecil hidup, ojek dan truk jalan, warung ramai.
“Tidak sedikit anak yang bisa lanjut kuliah karena orang tuanya kerja di tambang. Kalau dibilang semua tambang itu buruk, kami yang rasakan manfaatnya jadi bingung,” ujar warga lain.
Namun warga juga menegaskan: *dukungan bukan berarti membabi buta*. Mereka sepakat, tambang harus taat hukum, jaga keselamatan kerja, dan peduli lingkungan.
*Mari Berdebat Dengan Data, Bukan Dengan Nama*
Warga Belang mengajak semua pihak untuk kembali ke inti persoalan.
“Kita negara hukum. Kalau ada dugaan pelanggaran, ada polisi, ada dinas. Laporkan dengan data, dengan dokumen. Biar diperiksa secara adil. Jangan main vonis di media sosial,” ucap warga.
Mereka mengingatkan, media sosial bukan pengadilan. Sekali nama seseorang dilempar tanpa bukti, dampaknya bisa ke seluruh keluarga.
*Dukung Anak Daerah yang Buka Lapangan Kerja*
Warga juga menitip pesan untuk pengusaha lokal.
“Kami bangga kalau anak daerah sendiri yang buka usaha dan mempekerjakan orang Belang. Uangnya muter di sini juga. Asal semua sesuai aturan, kami dukung,” kata mereka.
*Harapan: Adil, Objektif, dan Manusiawi*
Di akhir, warga hanya punya satu harapan. Pemerintah dan aparat bisa bersikap adil.
“Yang melanggar hukum, tindak. Yang sudah benar dan menolong banyak orang, beri kepastian. Kami butuh kerja, tapi kami juga butuh hukum yang adil.”
Bagi warga Belang, pertambangan yang legal dan bertanggung jawab adalah bagian dari harapan mereka untuk hidup lebih baik. Dan setiap perbedaan pendapat, sebaiknya diselesaikan dengan kepala dingin, data, dan hati — *bukan dengan menyerang nama dan keluarga orang.*
-WinSky-












