WARTASIBER — Bolmut — Proyek pekerjaan Jalan Nasional di Desa Bohabag, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, yang berada di bawah tanggung jawab BPJN Sulawesi Utara, kini menjadi sorotan keras publik. Di balik aspal yang tampak mulus dan rapi, tersimpan ancaman maut yang setiap saat bisa merenggut nyawa pengguna jalan.
Fakta di lapangan menunjukkan bahu jalan dibiarkan sangat dalam tanpa rabat beton, sebuah kelalaian fatal pada ruas jalan nasional.
Kondisi ini membuat kendaraan yang sedikit saja keluar jalur berpotensi langsung terperosok dan jungkir balik, dengan risiko kecelakaan berat hingga kematian. Ironis dan memalukan, proyek bernilai besar justru menghadirkan “jalan cantik, tapi mematikan.”

Konfirmasi telah dilakukan kepada Kasatker Wilayah II BPJN Sulut. Pihaknya mengklaim telah memerintahkan PPK untuk mengalokasikan penanganan dan rehabilitasi bahu jalan. Namun hingga kini, tak ada satu pun bukti pekerjaan di lapangan. Janji perbaikan itu pun dipertanyakan kebenarannya.
“Apakah harus ada korban dulu baru diperbaiki?” tegas salah satu warga yang hampir setiap hari melintasi jalan tersebut.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar dan serius,. Ke mana sebenarnya anggaran proyek jalan nasional ini digunakan?
Dalam standar teknis, rabat beton bahu jalan adalah kewajiban mutlak, terlebih pada bahu jalan dengan kedalaman ekstrem. Tidak adanya rabat beton bukan sekadar cacat pekerjaan, melainkan indikasi kuat kelalaian sistemik, bahkan dugaan penyimpangan anggaran.
Atas situasi yang mengancam keselamatan publik ini, Aparat Penegak Hukum (APH) diminta segera turun tangan untuk mengaudit dan menyelidiki anggaran, perencanaan, serta pelaksanaan proyek jalan nasional di Desa Bohabag, Bolmut, Sulawesi Utara. Negara tidak boleh kalah oleh kelalaian, dan jalan nasional tidak boleh berubah menjadi ladang maut bagi rakyatnya.
Tim












